OJK Sebut Stabilitas Sistem Keuangan Terjaga di Tengah Pandemi, Ini Indikatornya

oleh -

BERSERIPOS.COM, JAKARTA Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan bahwa stabilitas sistem keuangan masih terjaga dengan baik di tengah pandemi Covid-19.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengungkapkan, dari sisi asesmen perkembangan sektor jasa keuangan, OJK mencermati stabilitas sektor jasa keuangan hingga Januari 2021 tercatat masih dalam kondisi terjaga. Beberapa indikator intermediasi sektor jasa keuangan membukukan kinerja positif dan profil risiko industri jasa keuangan tetap terkendali.

Hal ini terlihat dari berbagai indikator seperti, membaiknya IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) di atas level 6000 di awal Januari 2021, sempat menyentuh 6.435 namun akhir bulan Januari 2021 ditutup melemah di level 5.862,35 atau turun 1,95% ytd akibat rilis data ekonomi global.

Selain itu, jumlah total investor di pasar modal mencapai 3,88 juta investor atau naik 56% secara yoy dan terus bertambah menjadi 4 juta investor hingga 15 Januari 2021 dengan frekuensi transaksi yang mengalami tren kenaikan.

Pasar SBN selama tahun 2020 mengalami penguatan dengan yield turun 105 bps. Namun penguatan yield UST di awal 2021 mendorong pelemahan pasar SBN sehingga yield SBN perlahan naik.

Sentimen positif terkait vaksin di awal 2021 juga menggiring aliran masuk dana investor non-residen sebesar Rp 22,41 triliun di pasar modal. Sementara, antusiasme korporasi untuk terus menggalang dana melalui penawaran umum masih terjaga di masa pandemi dengan 53 emiten baru di 2020.

“Dan ini menjadi yang tertinggi di ASEAN dan kebanyakan investor ritel,” kata Wimboh saat konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan secara virtual, Senin (1/2).

Di industri perbankan, pertumbuhan kredit Desember 2020 terkontraksi -2,41% (yoy). Kendati demikian, kredit Bank BUMN masih tumbuh 0,63% dan BPD tumbuh 5,22% serta Bank Syariah tumbuh 9,50%.

“Terkontraksinya pertumbuhan kredit sangat dipengaruhi oleh penurunan baki debet korporasi besar yang disebabkan oleh belum optimalnya kapasitas produksi akibat masih lemahnya demand dan beberapa korporasi memiliki kebijakan mengurangi baki debet pinjaman dalam rangka mengurangi beban bunga,” katanya.

Berdasarkan kepemilikan, kredit di BUSN dan Bank Asing terus terkontraksi, sementara Bank Persero dan BPD masih tumbuh positif sejalan dengan kebijakan pemerintah mendorong penyaluran kredit melalui penempatan dana di Bank Persero, BPD, dan Bank Syariah.

“Penurunan Kredit pada Bank Asing antara lain diakibatkan oleh pengalihan kredit dari Bangkok kepada Bank Permata sehubungan dengan integrasi kedua bank tersebut,” ujar Wimboh.

Sementara itu di sektor Kredit UMKM berbagai kebijakan stimulus yang diberikan oleh OJK dan pemerintah berdampak pada stabilnya pertumbuhan kredit UMKM dan mulai tumbuh positif secara month-to-month pada beberapa bulan terakhir.

“Penempatan dana pemerintah di perbankan sebesar Rp 66,7 triliun telah disalurkan sebesar Rp 323,8 triliun atau memberikan leverage sebesar 4,8 kali,” imbuh Wimboh.**

Sumber: Kontan.co.id











Comment