Kisah Sukses MTQ 1983, Saat Sumbar Tuan Rumah Pertama Kali

oleh -
Suasana Pembukaan Acara MTQ Ke-13 Tahun 1983. (Foto: Dok. Azmiyati Aziz)

BERSERIPOS.COM, Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional ke-13 di Padang pada 1983, bukan saja menyisakan sejumlah monumen, namun juga cerita sukses. Kini, 37 tahun kemudian, saat Sumatra Barat (Sumbar) kembali jadi tuan rumah MTQ Nasional di tengah pandemi Covid-19, pengalaman itu menjadi cerita dan kenangan indah.

Dalam biografinya, Azwar Anas, gubernur Sumbar saat MTQ 1983 menceritakan, persiapan di balik MTQ yang dipuji banyak kalangan saat itu. “Uniknya, yang pertama dipikirkan Gubernur Azwar Anas bukanlah membentuk panitia MTQ, tetapi mengontak seniman/budayawan profesional dan berpengalaman untuk mendesain dan mengisinya dengan acara-acara kesenian yang semarak, terumata kesenian Minang,” tulis Abrar Yusra, dalam “Azwar Anas: Teladan dari Ranah Minang” (2011).

Setahun sebelum MTQ, Gubernur Azwar mendatangi Seniman Nazif Basir di Jakarta. Ia meminta agar Nazif menyiapkan skenario acara pembukaan MTQ Ke-13. Nazif menolak halus, karena ia tak ingin mengambil hal yang bisa dikerjakan para seniman yang tinggal di Sumbar.

Azwar kemudian mengambil jalan tengah. Pemerintah provinsi Sumbar ketika itu memilih mengadakan sayembara penulisan skenario acara pembukaan. Nazif didesak oleh Azwar untuk ikut dalam lomba tersebut. Ternyata, memang rancangannya yang dipilih oleh para juri.

Sembari memikirkan acara pembukaan, gubernur juga menghadapi masalah sarana untuk jadi tuan rumah. Tidak ada gedung pertemuan yang representatif untuk acara sebesar MTQ di Padang, maupun di kota-kota lain di Sumbar. “Maka datanglah gagasan untuk membangun Stadion Agus Salim di Rimbo Kaluang,” tulis Abrar.

Kawasan yang hari ini menjadi Gelanggang Olah Raga (GOR) Haji Agus Salim di Padang Baru, Kota Padang, saat itu adalah bekas lapangan pacuan kuda yang tak terawat. Agaknya, karena semak dan rawa-rawa menjadi sarang kelelawar, sehingga dinamakan masyarakat Rimbo Kaluang (Rimba Kelelawar).

Azwar melaporkan segala persiapan MTQ Ke-13 kepada Presiden Soeharto, jelang pelantikan periode keduanya (1982-1987) jadi gubernur Sumbar, sebagaimana dikutip situs soeharto.co dari Harian Kompas 10 November 1982. Presiden Soeharto meminta kepada Azwar, agar pelaksanaan MTQ di Padang, Mei 1983, diselenggarakan sesederhana mungkin tanpa mengurangi kekhidmatannya.

Kepada wartawan, Gubernur Azwar mengatakan biaya MTQ yang semula Rp5 miliar, sudah ditekan sedemikian rupa tinggal Rp2,5 miliar. Sementara, untuk pembangunan stadion tempat MTQ sebesar Rp 1,8 miliar. Pembangunan stadion, menurutnya, tetap akan bermanfaat setelah MTQ berakhir. Stadion yang dibangun di Rimba Kaluang ini sekaligus untuk menggantikan stadion lama di Lapangan Imam Bonjol, yang sudah terlalu kecil.

Saat hari pembukaan itu tiba, Stadion Haji Agus Salim selesai dan siap menjadi tempat pembukaan. Pada 23 Mei 1983 itu, Kota Padang bersolek. Di sekeliling stadion penuh dengan marawa. Abrar Yusra menulis, acara pembukaan berlangsung semarak. Dibuka narasi dari penyiar TVRI kondang saat itu Anita Rachman. Ada pagelaran tari piring massal, yang membentuk kaligrafi “Allahu Akbar”, dibawakan oleh ribuan siswa. Mahasiswa sendratasik IKIP Padang turun di bawah pimpinan Syofyani Yusaf.

Begitu pula, para koreografer Sumbar lainnya, seperti Gusmiati Suid, Tom Ibnur dan Deddy Luthan. Mereka mendapat kesempatan mempertontonkan kreasinya. Ragam kesenian rakyat Minang yang berjiwa adat dan agama seperti tari indang dan tari ratib juga ditampilkan.

Presiden Soeharto hadir untuk membuka MTQ tersebut. Dalam pidatonya, Soeharto mengatakan, bersyukur MTQ telah menjadi bagian dari kehidupan umat Islam Indonesia. “Hal ini sangat memperkuat ciri dan corak kehidupan keagamaan kita dalan negara yang berdasarkan Pancasila,” katanya, sebagaimana dikutip dari teks pidato yang dilansir situs soeharto.co.

Menurutnya, kita merasa bangga qari, qariah dan hafidz Indonesia telah ikut memberi nama baik bangsa pada lomba baca Al-Qur’an tingkat internasional. “Semuanya itu menunjukkan bahwa agama mendapat tempat yang terhormat dan tumbuh di atas tanah yang subur di bumi Pancasila kita.”

Namun, kata Soeharto, lebih dari sekedar membacanya, umat Islam harus berusaha memahami isi kandungannya. “…mengambil petunjuk dan hidayat daripadanya, untuk hidup dan kita sebagai orang seorang dan sebagai umat.”

Tak lupa, Presiden Soeharto menyampaikan pesan pembangunan. “Sebagai bangsa yang sedang membangun kita harus bekerja keras. Lebih-lebih dalam situasi seperti sekarang ini, dimana kita dihadapkan pada tantangan yang sangat besar, yaitu situasi dan perkembangan dunia yang tidak menguntungkan pelaksanaan pembangunan kita. Karena itu, disamping bekerja keras, kita pun harus menghemat.”

Pembukaan MTQ yang disiarkan secara langsung di TVRI membuat warga, terutama masyarakat Minang di ranah dan perantauan hampir tak beranjak dari layar televisi. Di kampung-kampung Ranah Minang saat itu, masih jarang ada televisi. Warga berkumpul di rumah saudara yang punya televisi. Lebih ramai lagi di depan televisi hitam putih untuk umum yang biasa disediakan di halaman balai-balai nagari yang saat itu disebut balai desa.

Partisipasi warga Sumbar bukan hanya menonton. Majalah Suara Masjid Edisi 103-111 Tahun 1983 menulis, masyarakat menyumbang untuk MTQ dengan membeli stiker. Stiker logo MTQ itu terjual habis memenuhi target, sebagai bukti dukungan warga Sumbar pada pelaksanaan MTQ.

Pelaksanaan MTQ sendiri berjalan lancar. Salah satu sumber menyebut, MTQ ini diikuti 26 provinsi. Sementara, data lain menyebut 27 provinsi. Di akhir acara, bila MTQ sebelumnya merugi, MTQ Ke-13 beruntung Rp400 juta. Dari dana ini kemudian didirikan Akademi Ilmu Qur’an yang kemudian naik status menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Quran (STIQ). Kampus ini menjadi kenang-kenangan kedua MTQ Ke-13 selain GOR Haji Agus Salim.

Wartawan Senior Fachrul Rasyid HF yang meliput acara itu mengakui kemeriahan acara tersebut. “Sumatra Barat seperti baralek. Hampir seluruh pihak di Sumbar terlibat, tanpa sekat,” katanya, saat dihubungi Langgam.id, Jumat (13/11/2020).

Ia mengatakan, pembangunan infrastruktur untuk MTQ Ke-13, dirancang tetap bermanfaat setelah acara. “Selain GOR Haji Agus Salim, Jalan Khatib Sulaiman dua jalur dibangun untuk acara itu. Juga membuat Jalan Raden Saleh jadi dua jalur, selain pelebaran sejumlah jalan. Masyarakat menikmati hasilnya hingga kini,” tuturnya.

Firdaus Ilyas, salah seorang penggerek bendera MTQ Ke-13 mengatakan, meski informasi pada saat itu masih terbatas, gaung acara sangat kuat. “Informasi dulu kan belum seperti kini. Dulu masih serba terbatas. Panitia bisa mencarikan sesuatu yang lebih saat itu. Seperti tari massal yang melibatkan orang banyak, aubade lagu-lagu,” katanya, saat dihubungi Langgam.id, Jumat (13/11/2020).

Mantan pejabat Pemko Padang tersebut setahun sebelum MTQ adalah wakil Sumbar di Paskibraka Nasional. Ia kembali terpilih menjadi penggerek bendera MTQ bersama Joni Nurdin.

Azmiyati Aziz yang membawa baki bendera MTQ punya pengakuan yang sama. Azmiyati adalah wakil Sumbar di Paskibraka Nasional pada 1978. Pada 1983, ia kembali diminta terlibat dalam pengibaran bendera MTQ.

“Ada penyerahan (bendera) dari Pak Soeharto secara simbolis waktu itu. Secara simbolis saya menerima. Kemudian, naik panggung itu tinggi tangannya. Saya serahkan kepada Pak Gubernur Azwar Anas. Dari beliau diserahkan lagi ke petugas satu lagi baru diserahkan ke pengibar bendera, baru dikibarkan,” ujarnya.

Kemeriahan acara MTQ saat itu, tak lepas dari gaung acara melalui media. “Euforia masyarakat luar biasa. Bayangkan, sebelumnya pelaksanaan memang diubah Kota Padang. Dari lapangan sebelumnya tempat pacuan kuda banyak kotoran disulap lapangan MTQ luar biasa pada waktu itu. Jalan-jalan dirombak, salah satunya Jalan Raden Saleh yang dibuat dua jalur,” katanya.

Meski MTQ saat ini digelar dalam suasana pandemi Covid-19, Azmiyati berharap acara tetap meriah. “Kalau bisa gebyar sekarang digencarkan di televisi dan mungkin media sosial. Ditampilkan, ini lho MTQ. Diharapkan Sumbar juara, apapun perlombaannya,” katanya.

Menurut Firdaus, MTQ 1983 menjadi kenangan indah, terutama bagi yang terlibat dalam acara pembukaan. “Saat saya tanya di media sosial, banyak yang muncul. Para penari, pengisi aubade, pasukan pengibar bermunculan. Menghadirkan mereka bersama para juara MTQ dahulu saat ini, akan membuat sejarah itu kembali berkibar,” tuturnya.**

 

Sumber: https://langgam.id/kisah-sukses-mtq-1983-saat-sumbar-tuan-rumah-pertama-kali/





Comment