Fakta di Balik Kenikmatan Sepiring Nasi Padang

oleh -
Aneka lauk di rumah makan padang (foto:instagram @anakjajan)

BERSERIPOS.COM – Ranah Minang tidak hanya dikenal dengan masyarakat yang religius serta kekayaan budaya seni dan tradisinya. Minangkabau, nama yang diambil dari suku terbesar di Provinsi Sumatra Barat (Sumbar) ini, juga tersohor dengan kulinernya yang lezat.

Kulinernya bisa ditemui di kedai atau restoran yang biasa disebut dengan rumah makan Padang. Rasanya hampir di seluruh penjuru kota di Indonesia dapat kita temui rumah makan urang awak, sebutan untuk orang Minangkabau.

Mengapa dinamakan rumah makan Padang dan bukan rumah makan Minangkabau? Ternyata ada sebuah kisah di balik penamaan rumah makan dengan kata “Padang” lebih populer dari kata “Minangkabau” ini.

Dilansir dari website indonesia.go.id, diceritakan oleh pakar sejarah Minangkabau Gusti Asnan, semua bermula ketika bergolaknya peristiwa pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia atau PRRI di Sumbar yang berhasil ditumpas pada 1961.

Peristiwa pemberontakan PRRI ini telah menyebabkan terjadinya eksodus besar-besaran warga keluar dari Sumbar termasuk ke Pulau Jawa. Menurut profesor sejarah di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Padang tersebut, akibatnya tak sedikit dari warga di perantauan yang kemudian berusaha mengganti penyebutan identitas asal mereka termasuk asal etnik dari Minangkabau menjadi Padang.

Termasuk pula di dalamnya menamai kedai sebagai rumah makan Padang dan itu dipertahankan sampai hari ini. Bahkan jauh lebih populer dari sebutan lama sebagai lapau nasi, los lambung atau karan. Lapau dalam bahasa Minangkabau adalah kedai dan los lambung adalah istilah setempat untuk menyebut warung makan.

Lauk sebagai teman nasi putih tak hanya rendang saja. Pemerhati kuliner Minang, Sri Owen dalam bukunya The Home Book of Indonesia Cookery yang terbit pada 1976, menyebutkan bahwa setidaknya ada lebih dari 20 lauk yang siap menjadi teman santap dalam sepiring nasi padang.

Menurutnya, lauk-lauk tadi terdiri dari aneka gulai berbahan hewani seperti daging sapi, kerbau, ayam dan ikan serta beragam sayur di samping pedasnya aneka sambal. Kekayaan rempah seperti kapulaga, jinten, kunyit, jahe, lengkuas, berpadu nikmat dengan limpahan santan kelapa dan warna-warni alami cabai.

Ini akan menghasilkan aroma lezat menyergap hidung dan siap mengguncang perut-perut lapar kita. Tak perlu bingung memilih mana yang akan lebih dulu disantap di antara lebih dari 15 lauk tadi. Saat singgah di rumah makan padang, cukup melihatnya di area palung atau bagian depan dari kedai yang berkaca lebar.

Manatiang

Saat memasuki rumah makan padang, sering terjadi kita bingung hendak memilik lauk apa. Tenang, di rumah makan Padang punya cara khusus untuk melayani pembeli. Mintakan saja kepada pelayan untuk menyajikan aneka lauk tadi di meja tempat kita makan.

Di sini ada semacam prosesi unik dipamerkan si pelayan saat membawa aneka lauk tadi, namanya manatiang. Manatiang yaitu membawa aneka lauk yang bersusun-susun di dalam piring, mirip seperti di palung tadi.

Hebatnya lagi, saat manatiang ini, si pelayan hanya mengandalkan tangan sebelah kiri untuk membawa aneka lauk yang bisa mencapai 13 jenis sekali bawa dan membentuk 2-3 tingkat susunan di lengannya.

Ketika sampai di meja pemesan, tangan kanan si pelayan dengan cekatan segera menurunkan susunan piring berisi aneka lauk dan sambal ke atas meja. Maka tersajilah di hadapan kita parade warna mencolok khas rempah seperti merah, oranye, kuning, hijau dan cokelat tua berasal dari aneka lauk tadi. Wanginya pun sudah tentu menggugah selera.

Ternyata ada filosofi tinggi di balik cara penyajian makanan bersusun yang membutuhkan keahlian tinggi, yaitu bermakna kecepatan. Sebagai bentuk menghargai tamu, makanan mesti dihidangkan dengan cepat agar mereka tidak menunggu terlalu lama. Menyajikan seluruh menu makanan di hadapan pengunjung juga punya filosofi yang tinggi.

Dalam buku Cita Rasa Nusantara karya William Wongso disebutkan bahwa kebiasaan ini menjadi cara untuk menunjukkan bahwa masyarakat Minangkabau tidak mengenal perbedaan antara si kaya dan si miskin. Setiap orang disajikan makanan yang sama dan bebas melihat serta memilih yang diinginkan. Dan inilah sejatinya cinta kepada sesama yang ditunjukkan urang awak dalam sepiring nasi Padang.

Ancaman Lemak Jahat

Di balik kelezatan lauk nasi Padang, sebuah bahaya pun mengintai jika tidak bijak dalam mengonsumsinya. Pertama, jika berlebihan mengonsumsi nasi Padang terutama lauk-lauk berlemaknya, maka tentu saja akan membuat berat badan naik.

Di samping itu, pedasnya beberapa jenis lauk nasi Padang berpotensi membuat penyantapnya menjadi diare akibat iritasi pada lambung sehingga meningkatkan asam lambung.

Rasa asin karena hadirnya garam pada sejumlah lauk nasi Padang ikut menyumbang potensi risiko hipertensi atau darah tinggi dan menjadi gerbang bagi risiko penyakit lainnya seperti jantung, ginjal, dan stroke.

Namun faktanya, kandungan lemak jenuh pada santan hanya seperempat dari minyak goreng. Begitu pula kalori pada makanan bersantan lebih rendah. Di sinilah peran bumbu rempah pada lauk tadi bekerja.

Kehadiran beragam bumbu rempah seperti jahe, kunyit, lengkuas, serta daun serai berperan sebagai antioksidan karena terdapat unsur fitokimia di dalamnya. Antioksidan ini dapat mencegah lemak jahat serta pembentukan plak. Juga mencegah kanker, katarak, dan memperlambat penuaan.**

 

Sumber: langgam.id

Comment