Mendikbud Nadiem Minta Orangtua Siswa Desak Pemda Segera Gelar Sekolah Tatap Muka

oleh -
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengikuti rapat kerja dengan Komisi X DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (12/12/2019). Rapat kerja tersebut membahas sistem zonasi dan Ujian Nasional (UN) tahun 2020, serta persiapan pelaksanaan anggaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2020. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/aww.(ANTARA FOTO/PUSPA PERWITASARI)

BERSERIPOS.COM – Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim menyarankan orangtua siswa mendorong Pemda untuk segera menggelar Pembelajaran Tatap Muka (PTM). Dengan syarat, daerah tersebut berada dalam kawasan PPKM level 1, 2, dan 3.

“Jadi bagi (sekolah) yang berada di level 1-3 belum tatap muka, mohon masyarakat mendesak Pemdanya untuk bisa menggelar tatap muka,” kata Nadiem dalam Rapat Kerja bersama Komisi X DPR RI, Rabu (25/8).

Nadiem menegaskan, seluruh sekolah yang berada di PPKM Level 1-3 bisa melaksanakan PTM terbatas tanpa perlu menunggu vaksinasi. Dijelaskan Nadiem, vaksinasi Covid-19 bukan syarat wajib bagi sekolah untuk membuka pembelajaran di kelas secara terbatas. PTM Terbatas hanya tidak diperkenankan pada daerah yang diberlakukan PPKM Level 4.

“Saya ingin melakukan klarifikasi dan mohon dukungan. Saat ini yang boleh melakukan tatap muka (pembelajaran) adalah semua di PPKM Level 1-3 dan vaksinasi tidak menjadi kriteria atau harus menunggu vaksinasi dulu untuk boleh,” tegasnya.

Menurut Nadiem, sekolah-sekolah yang diwajibkan menggelar PTM terbatas hanya yang berada di daerah dengan PPKM Level 1-3 serta guru dan tenaga kependidikannya sudah divaksin secara lengkap.

Akan tetapi, jika ada orang tua yang masih khawatir dengan hal itu, mereka bisa tetap melarang anak-anaknya untuk ke sekolah dan pihak sekolah juga wajib menyediakan opsi pembelajaran secara jarak jauh atau PJJ.

“Jadi yang wajib itu kriterianya kalau guru dan tenaga pendidiknya sudah divaksin dua kali. Merekalah yang wajib, terutama di kota-kota besar, seperti DKI dan Surabaya,” ujarnya.**

 

 

Merdeka.com

Comment