Dokter: Butuh Waktu Pulihkan Paru-Paru Penyintas Covid-19

oleh -
Ilustrasi paru-paru. (Foto: Getty Images/iStockphoto/Natali_Mis)

BERSERIPOS.COM, Jakarta – Kondisi organ tubuh terutama paru-paru yang pernah terinfeksi Covid-19 sulit kembali seperti semula. Hal ini disampaikan oleh dokter spesialis penyakit dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dr Rudy Kurniawan, Sp.PD, dalam diskusi virtual, Kamis (26/8).

“Terutama untuk kondisi medium sampai berat itu biasanya kembalinya lama dan kalau kami cek secara radiologis, gambarnya masih putih-putih atau ground-glass opacity (GGO)-nya masih ada,” kata dr Rudy.

Sama seperti kulit tergores yang akan menimbulkan bekas luka meski sudah sembuh, dr Rudy mengatakan peradangan atau kerusakan di paru-paru juga akan meninggalkan bekas. Fungsi baru-paru juga akan berkurang sehingga butuh waktu lama untuk bisa mengembalikannya seperti semula.

“Tapi kalau kondisi ringan, GGO-nya tipis, bisa jadi lebih cepat,” ujarnya.

Bagi orang yang memiliki komorbid diabetes, kadar gula darahnya akan berantakan pasca terinfeksi Covid-19. Penyebabnya adalah obat-obatan yang dikonsumsi selama masa perawatan.

“Ada beberapa obat yang membuat gula naik, infeksinya juga membuat gula jadi berantakan,” kata dia.

Hal itu membuat seseorang dengan komorbid diabetes memerlukan pengawasan ketat pasca terinfeksi Covid-19 dengan selalu melakukan observasi kadar gula darah dan mengatur kembali obat-obatan yang dikonsumsi. Sementara itu, orang dengan komorbid penyakit jantung mungkin akan mengalami perubahan seperti pengurangan pompa jantung dan gangguan terhadap fraksi ejeksi.

Oleh karena itu, dr Rudy menganjurkan bahwa pasca seseorang terkena Covid-19, wajib menerapkan pola makan sehat, olahraga, dan istirahat yang cukup.

Dia mengatakan, pola makan sehat dan olahraga berbeda antara satu individu dengan individu lain. Jangan takut untuk konsultasi apalagi sekarang sudah banyak telemidisin. “Daripada dengar kata orang lain, kata tetangga, lebih baik konsultasi dulu untuk mengetahui langkah apa yang tepat untuk dilakukan supaya tidak salah karena setiap orang berbeda,” ujarnya.**

 

 

Republika.co.id

Comment