Mahasiswa UMM Sukses Mengolah Limbah Kulit Kedelai Jadi Abon

oleh -
Ilustrasi Kulit Kedelai (Internet)

BERSERIPOS.COM – Tiga mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses mengolah limbah kulit kedelai menjadi abon siap makan. Makanan hasil olahan limbah ini pun mereka tularkan kepada masyarakat hingga sukses dijual.

Ketiga mahasiswa UMM tersebut yakni Siti Mariyatul Qibliyah, Hanifa Rizky Rahmawati, dan Allifia Nisa’ Cholida. Mereka terdorong memanfaatkan limbah kedelai karena banyak terbuang.

Berbekal ilmu yang mereka miliki, ketiga mahasiswa ini berinovasi dan mendampingi masyarakat memanfaatkan limbah kulit kedelai dan mengaplikasikannya di Desa Tanjungtani, Kecamatan Prambon, Kabupaten Nganjuk.

Ketua kelompok Siti Mariyatul Qibliyah menceritakan, bahwa Desa Tanjungtani menjadi salah satu sentral tempe dan tahu di Nganjuk. Sayangnya, limbah produksi yaitu kulit ari kedelai tidak dimanfaatkan dengan baik. Hanya segelintir orang saja yang melakukan pemanfaatan ulang. Dari sanalah dia dan rekannya melihat adanya peluang bagi warga setempat, kemudian mencoba memanfaatkan kulit ari kedelai tersebut.

“Kami melihat adanya peluang pada memanfaatkan kulit ari kedelai ini menjadi produk yang memiliki nilai jual,” katanya, Jumat (17/9/2021).

Mereka pun melatih para ibu-ibu PKK melalui program Kreatifitas Mahasiswa-Pengabdian Masyarakat (PKM-PM). Terhitung mulai Juni hingga Agustus 2021 lalu, ketiganya memberikan pendampingan ke masyarakat.

Sudah 18 kali mereka mendampingi ibu-ibu ini dalam berbagai aktivitas. Para ibu-ibu tersebut diajari cara memanfaatkan kulit ari kedelai hingga menjadi sebuah produk abon. “Kami juga ajarkan cara distribusi produk dan uji kandungan pada lembaga pemerintah,” katanya.

 

Selain materi teknis, ada pula pendampingan mengenai cara memasarkan produk, baik itu online maupun offline. Ibu-ibu Desa Tanjungtani juga diajarkan pembukuan penghitungan, pengeluaran, dan pemasukan. Hal ini dilakukan agar UMKM yang dibangun menjadi ekonomi mandiri desa serta mampu bertahan ke depannya.

Dia menuturkan, pendampingan yang dilakukan berefek positif kepada masyarakat. Para ibu-ibu ini saat bisa memproduksi dan memasarkan secara mandiri produk abon dari limbah kedelai.

“Produk abon dipatok di kisaran Rp15.000-Rp20.000. Menurut saya, ini adalah langkah yang positif karena para warga bisa memanfaatkan kulit ari kedelai yang sebelumnya hanya limbah menjadi produk yang memiliki nilai jual,” tuturnya.

Kini program pemberdayaan ketiga mahasiswa ini juga menjadi PKM PM yang lolos pendanaan dan bakal dibiayai oleh Direktorat Jendral Perguruan Tinggi (DIKTI), Mei lalu.

“Kami berharap terus bekerja sama dan melanjutkan produksi abon, sehingga dapat menciptakan kemandirian ekonomi bagi Desa Tanjungtani, sehingga bisa bermanfaat bagi masyarakat,” katanya.

 

 

 

 

Inews.id

Comment