Sidang Kasus Perusakan di Perumahan Karyawan PT Langgam Harmuni, Saksi Ungkap Situasi Saat itu, Anak-anak Histeris

oleh -

BERSERIP0S.COM – Sidang lanjutan kasus perusakan di perumahan karyawan PT Langgam Harmuni di Desa Pangkalan Baru, Siak Hulu, Kampar kembali di gelar di Pengadilan Negeri Bangkinang, Rabu (29/9).

Kali ini Jaksa Penuntut Umum Setrio Aji Wibowo menghadirkan empat saksi dalam kasus yang melibatkan nama Hendra Saksi sebagai terdakwa.

Sidang itu menghadirkan saksi General Maneger (GM) PT Langgam Harmoni Karel, Penanggung Jawab Utama (PJU) PT Langgam Harmoni Basken Robert Manalu, Bindo dan Security, Aprinaldi.

Dimuka persidangan Basken mengungkapkan apa yang ia ketahui pada kejadian itu.

Ia mengatakan kala itu ada sekitar 300 lebih masa datang ke PT Langam Harmoni. Terdakwa Hendra Sakti saat itu datang menghampirinya dan memperkenalkan dirinya sembari mengatakan bahwa dirinya disuruh oleh Ketua Koperasi Petani Sawit Makmur (KOPSA-M).

“Saat masa itu datang saya ditempat, kita tidak tau tiba – tiba orang itu (red-masa yang melakukan aksi perusakan). kedatangnya sekira pukul 18.00. Terdakwa Hendra Sakti saat itu sempat menanyakan siapa pemimpinnya disisni, saya bilang saya, kemudian dia mengenalkan diri kepada saya, sambil mengatakan ‘saya disuruh Ketua Koperasi,” kata Basken dipersidangan di Pengadilan Negeri (PN) Bangkinang, Rabu (29/9).

Basken yang terkejut dengan kedatangan tamu yang tak diundang itu lalu sempat menanyakan urusan Hendra Sakti.

Pertanyaan Basken justru menyulut emosi Hendra Sakti.

“Saat saya tanya memangnya ada apa urusan bapak kesini?, dia langsung marah dan bentak saya, sambil mengatakan jangan banyak tanya,” ujar Basken dihadapan Majelis Hakim yang diketuai Ferdi.

Dalam kesaksian itu, Basken juga membeberkan bahwa Hendra Sakti juga memberikan waktu kepada seluruh karyawan agar berkumpul lalu meninggalkan perumahan dalam waktu 15 menit serta menyuruh memematikan seluruh lampu.

“Mendengar hal itu saya mengatakan saya harus telfon pimpinan dulu. Kemudian saya menelfon pimpinan mengatakan bahwa ada orang demo. Namun terdakwa kembali marah dia bilang kok lama sekali kamu nelfon, kami diancam dan dipaksa untuk meninggalkan perumahan,” kata Basken.

Basken juga mengaku bahwa dirinya dikelilingi oleh masa dan tidak bisa berbuat apa – apa setiap mau jalan.

Hendra Sakti dikawal oleh masa sambil mendesak agar dirinya dan yang lainnya cepat meninggalkan perumahan.

Selanjutnya karna ada karyawan yang tetap ingin bertahan di perumahan, Basken mendengar salah satu masa sempat mengatakan bakar saja sekalian, namun ia tidak tau persis siapa orangnya.

“Sebelum kami pergi dari perumahan rumah kami sudah dicongkel. Saat itu kami masih didepan halaman rumah, masih di depan halaman rumah. Mereka mengusir kami tanpa ada rasa kemanusiaan kami dibuat seperti binatang,” terang Basken.

“Padahal ada anak – anak kami, namun mereka tidak peduli. Melihat kejadian itu anak saya sampai sekarang masih trauma, biasanya anak saya senang lihat bus sekarang anak saya takut,” sambung Basken.

Basken mengungkapkan kala itu situasi tidak kondusif. Para karyawan merasa takut karena beberapa masa itu ada yang membawa linggis dan tojok.

Melihat situasi itu akhirnya para karyawan memutuskan untuk pergi dari perumahan dan berkumpul serta menginap di balai Desa Pangkalan Baru dengan kondis basah dikarena saat itu cuaca sedang hujan deras.

“Setelah mereka kembali pulang keperumahan esoknya, perumahan mereka sudah dibongkar dan barang – barang mereka diambil,” sebut Basken.

Basken juga mengaku atas kejadian itu ia mengalami kerugian lebih kurang 150 juta.

Sementara itu, saksi Karel mengatakan saat itu dia ada di lokasi berjarak sekitar 50 meter dari tempat kerusuhan. Ia melihat lampu perumahan saat itu sudah dimatikan, rumah karyawan dirusak, dijarah dan karyawan serta anak – anak diusir dalam kondisi saat sedang hujan.

“Karna kondisi mencekam saya tidak ketempat kerusuhan jarak saya sekitar 50 meter. Saya dengar kaca pecah, suara teriakan anak anak histeris dan saya dengar kalau 15 menit tidak keluar akan dibakar,” kata Karel.

JPU yang mendengar keterangan saksi itu lantas menanyakan apa tujuan masa itu melakukan aksi karena dia merupakan Genaral Maneger di Perusahaan tersebut.

Saksi mengungkapkan bahwa dirinya mengetahui dan tidak pernah kenal dengan terdakwa Hendra Sakti dan juga selama ini tidak ada koordinasi atau permasalahan.

“Saya tidak tau, datangnya pun menjelang malam tidak ada koordinasi sama sekali saya tidak kenal sama Hendra Sakti. Menurut saya mereka datang untuk menjarah, apa tujuannya saya pikir mereka yang lebih tau,” kata Karel.

“Menurut saya mereka itu masa bayaran, Hendra Sakti dapat kuasa dari ketua koperasi untuk melakukan ini. Saya dengar dari orang kuasa dari koperasi itu dalam bentuk tertulis,” jelas Karel didepan persidangan.** (A)

Comment